Entri Populer
-
Assalammu’alaikum Wr.Wb. Yang terhormat Bapak/Ibu Guru Pengawas ujian praktik Bahasa Indonesia, Dan teman-teman sekalian yang saya cintai ...
-
generasi kedua. Tahun 1948, penemuan transistor sangat berpengaruh terhadap perkembangan komputer masa itu. Transistor menggantikan tube v...
-
I. Pendahuluan Sejarah Islam mencatat bahwa hingga saat ini terdapat dua macam aliran besar dalam Islam. Keduanya adalah Ahlussunnah...
-
Dari Abu Hurairah ra. dan Abu Said Al Khudri ra. berkata : Rasulullah saw. bersabda : "Sesungguhnya Allah mempunyai malaikat yang berk...
-
Suami isteri hendaklah memastikan pasangan masing-masing dalam keadaan bersedia, tempat yang selesa dan masa yang sesuai. Suami isteri...
-
salman khan alman Khan melakukan debut aktingnya di film tahun 1988 Biwi Ho Untuk AISI di mana ia memainkan peran pendukung. Peran utam...
-
Salah satu alasan saya angkat Tokoh yang satu ini kedalam rubrik Tokoh dalam Blog ini adalah agar bisa menjadi sum...
-
Dari Anas bin Malik ra. dari Nabi saw, beliau bersabda : "Ketika Allah menciptakan bumi, bumi itu goyang, maka Dia menciptakan gunung-...
-
PERKARA-PERKARA PENTING SEMASA MELAKUKAN PERSETUBUHAN 1. Bertaubat dan Memohon Keampunan Di malam pertama Islam menganjurkan kepada pa...
Selasa, 29 Mei 2012
Hujan Merah di Kerala
Dari 25 Juli sampai 23 September 2001, hujan merah turun di selatan India, Propinsi Kerala. Tidak hanya merah, hujan warna kuning, hijau dan hitam juga dilaporkan terjadi. Pemerintah India menemukan bahwa hujan ini telah "diwarnai" oleh spora dari alga, yang tersebar di udara. Kemudian, awal tahun 2006, Kerala pun menjadi perhatian dunia.
http://duniaunikmenarik.blogspot.com/2011/03/7-fenomena-alam-yang-unik-di-dunia.html
Kambing yang Memanjat di Maroko
Kambing yang memanjat pohon, hanya dapat ditemukan di Maroko. Kambing ini memanjat pohon karena ingin memakan buah dari Pohon Argan, yang mirip dengan Buah Zaitun. (sori ga ada keterangan lebih lanjut)
http://duniaunikmenarik.blogspot.com/2011/03/7-fenomena-alam-yang-unik-di-dunia.html
Hujan Ikan di Honduras
The Rain of Fishes (Hujan ikan) ada diceritakan dalam Cerita Rakyat Honduras. Namun, juga terjadi secara nyata di Departamento de Yoro, antara bulan Mei dan Juli. Saksi mengatakan bahwa fenomena ini dimulai dengan awan gelap di langit, diikuti dengan kilat, guntur, angin kencang dan hujan lebat selama 2 - 3 jam. Setelah hujan berhenti, ratusan ikan ditemukan hidup di tanah. Orang mengambil ikan - ikan ini dan memasaknya. Sejak 1998, Festival Hujan Ikan dirayakan setiap tahun di kota Yoro.
Petir Abadi di Venezuela
Petir Catatumbo yang misterius adalah sebuah fenomena alam yang unik di dunia. Terletak di muara sungai Catatumbo di Danau Maracaibo. Fenomena ini berupa awan petir yang membentuk sebuah "garis" kilat sepanjang 5 kilometer, setiap 140 - 160 malam dalam setahun, selama 10 jam tiap malam, dan lebih dari 280 kali dalam 1 jam itu. Ini hampir bisa disebut 'badai permanen'. Petir ini mempunyai intensitas 400.000 ampere dan terlihat hingga 400 km jauhnya. Menurut penelitian, petir ini terjadi karena tumbukan angin yang berasal dari Pegunungan Andes. Petir ini juga dijadikan sebagai navigasi oleh para pelaut.
Senin, 28 Mei 2012
Ibu Teladan Asma' Binti Abu Bakar As Siddiq Dzatun Nithaqain
Ibu Teladan
Asma' Binti Abu Bakar As Siddiq, Dzatun Nithaqain
“Ya Allah! Kasihanilah dia kerana
solat yang panjang diselangi tangisan di tengah kedinginan malam yang
sepi, ketika orang-orang lain sedang nyenyak dibuai mimpi. Ya Allah!
Kasihanilah dia yang sering menahan lapar dan dahaga ketika bertugas
jauh dari Madinah atau Mekah dalam menunaikan ibadah puasa kepadaMu. Ya
Allah! Aku menyerahkannya di bawah pemeliharaanMu, aku redha dengan apa
yang telah Engkau tetapkan bagiku dan baginya, dan berilah kami pahala
orang-orang yang sabar...!" [Doa Asma' radhiallahu anha buat puteranya,
Abdullah bin Zubair]
Asma' binti Abu Bakar As-siddiq, saudara kepada
Aisyah Ummul Mukminin (isteri Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam),
puteri kepada sahabat Rasulullah yang mulia, Saidina Abu Bakar
As-siddiq, isteri Zubair bin Awwam, pejuang dan tokoh Islam yang
mengutamakan redha Allah di dalam perjuangannya, Merupakan seorang
wanita muhajir yang mulia dan bonda kepada Abdullah bin Zubair, salah
seorang pejuang yang gugur mempertahankan agamanya, dan sesungguhnya
kedudukannya ini cukup untuk mengangkat darjat beliau ke tempat yang
tinggi, mulia dan terpuji. Peribadinya dirahmati Allah dengan
keistimewaan yang sangat menonjol, setanding dengan para Muslimin di
ketika itu, cerdas, cerdik, lincah, pemurah dan berani.
Kedermawanan
beliau dapat dilihat jelas melalui ucapan anaknya," Aku belum pernah
melihat wanita yang sangat pemurah melebihi ibuku termasuk Aisyah
Radhiallahu anha. Beliau (Aisyah) mengumpulkan apa yang diperolehinya
sedikit demi sedikit, lantas setelah itu barulah dinafkahkannya kepada
mereka yang memerlukannya. Sedangkan ibuku, dia tidak pernah menyimpan
sedikit pun sehingga hari esok"
Kebijaksanaan Dzatun Nithaqain
Kecemerlangan
berfikir Asma Radhiallahu anha terpancar dari sikapnya yang penuh
prihatin dan perhitungan yang bijaksana. Peristiwa Hijrah Abu Bakar
menyaksikan pengorbanan seorang sahabat demi Islam, tidak meninggalkan
sesen pun harta untuk keluarganya melainkan dibelanjakan keseluruhannya
untuk Allah dan rasulNya. Ketika Abu Quhafah (ayah kepada
Abu Bakar radhiallahu anhu) yang masih musyrik menemui keluarganya,
beliau berkata kepada Asma',
"Demi Allah! Tentu ayahmu telah mengecewakanmu
dengan hartanya, di samping akan menyusahkanmu dengan pemergiannya!".
Jawab wanita yang mulia ini, "Tidak wahai datuk! sekali-kali
tidak! Beliau banyak meninggalkan wang buat kami" ujarnya sambil
menghibur dan menenangkan datuknya. Dikumpulkannya batu-batu kerikil
yang kemudiannya dimasukkan ke dalam lubang tempat kebiasaannya
menyimpan wang. Kemudian dibawakan datuknya yang buta itu ke tempat
simpanan tersebut, lantas berkata, "Lihatlah datukku! Beliau banyak
meninggalkan wang buat kami!". Perkataan tersebut ternyata berjaya
meyakinkan Abu Quhafah. Maksud perbuatan tersebut adalah untuk
menyenangkan hati datuknya, agar tidak bersusah hati memikirkan hal
tersebut. Malah, Asma' juga tidak menginginkan bantuan
dari orang musyrik meskipun datuknya sendiri. Inilah bukti yang
menunjukkan besarnya perhatian beliau terhadap dakwah dan kepentingan
kaum Muslimin.
Diberi julukan sebagai 'dzatun nithaqain' oleh
Rasulullah yang membawa erti "wanita yang mempunyai dua tali pinggang",
sebagai peringatan terhadap peristiwa Hijrah yang menyaksikan
pengorbanan dan keberanian Asma' yang tiada tolok bandingannya. Beliau
bersusah payah menyediakan bekalan makanan dan minuman buat Rasulullah
dan Abu Bakar Radhiallahu anhu di saat genting seperti itu. Beliau
mengoyakkan ikat pinggangnya kepada dua untuk dijadikan tali pengikat
untuk mengikat bekalan makanan dan minuman tersebut, sehingga kerana
peristiwa itu Rasulullah mendoakan beliau agar digantikan tali pinggang
tersebut dengan yang lebih baik dan lebih indah di syurga kelak.
Tidak hanya itu
pengorbanan Asma Radhiallahu anha. Peristiwa hijrah ini turut
menyaksikan kekuatan berfikir dan perancangan strategi yang dimiliki
oleh seorang Muslimah hasil dari aktiviti politik dan kecemerlangan
berfikir yang diadun dengan ketaqwaan dan keimanan yang teguh. Asma'
Radhiallahu anha bukan sekadar menjadi penghantar makanan kepada dua
orang sahabat yang berperanan penting bagi umat Islam, malah beliau juga
menyampaikan berita-berita penting tentang rencana-rencana pihak musuh
terhadap kaum Muslimin. Dengan kehamilannya ketika itu, Asma' mengambil
peranan yang menjanjikan risiko tinggi, di mana bukan saja
nyawanya menjadi taruhan, malah lebih dari itu, nyawa Rasulullah
Sallallahu Alaihi wa Sallam dan ayahnya turut sama terancam. Memikirkan
kemarahan musuh Islam lantaran lolosnya Rasulullah dari kepungan, kafir
Quraisy pastinya akan berusaha bersungguh-sungguh mencari-cari
Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam untuk dibunuh kerana bencinya
mereka terhadap dakwah Islam dan pejuang-pejuangnya.
Di saat-saat genting
seperti itu, Asma' mampu meramal segala kemungkinan yang bakal berlaku,
dan dengan kecerdikan dan penuh perhitungan, beliau berjalan menuju Gua
Tsur sambil menggembala kambing-kambingnya berjalan di belakangnya.
Taktik ini dilakukan untuk mengaburi mata pihak musuh kerana jejaknya
terhapus oleh jejak-jejak kambing gembalaannya itu. Tindakan ini belum
tentu mampu dilakukan oleh seorang lelaki yang berani sekalipun,
lantaran hal tersebut bakal mengundang bahaya, kezaliman, dan kekejaman
orang-orang kafir Quraisy.
Permasalahan ini tidak cukup sampai di situ.
Setelah kejayaan Rasulullah dan Abu Bakar keluar dari tempat
persembunyian dan berhasil berhijrah ke Madinah, Asma' Radhiallahu anha
dan keluarganya didatangi beberapa orang Quraisy, di antaranya Abu Jahal
yang telah bertindak kasar menampar pipi Asma’ Radhiallahu anha dengan
sekali tamparan yang mengakibatkan subangnya terlepas!. Asma' menjawab
dengan penuh diplomasi saat beliau ditanya tempat persembunyian
Rasulullah dan ayahnya dengan berkata," Demi Allah, aku tidak tahu di
mana ayahku berada sekarang!"
Hijrah Asma' Radhiallahu anha dan suaminya ke
Madinah berlaku selang beberapa lama dari hijrah sebelumnya, di mana
pada ketika itu Asma' sedang sarat mengandungkan Abdullah bin Zubair dan
hanya menanti detik-detik kelahirannya. Perjalanan yang jauh dan
berbahaya ditempuhi jua sehinggalah angkatan para sahabat tiba di Quba'.
Kelahiran anak pasangan sahabat ini disambut dengan penuh kesyukuran
dan kegembiraan. Dialah bayi pertama yang dilahirkan di Madinah.
Sebaik-baik
Ummu wa Rabbatul Bait
Seorang muhajirah yang agung, antara wanita yang
awal memeluk Islam, sangat memuliakan suaminya meskipun Zubair hanya
seorang pemuda miskin yang tidak mampu menyediakan pembantu buatnya.
Hatta tidak mempunyai harta yang dapat melapangkan kehidupan
keluarganya, melainkan hanya seekor kuda yang dijaganya dengan baik.
Beliaulah isteri yang sentiasa sabar dan setia berkhidmat untuk
suaminya, sanggup bekerja keras merawat dan menumbuk sendiri biji kurma
untuk makanan kuda suaminya di saat Zubair sibuk menjalankan tugas-tugas
yang diperintah Rasulullah kepadanya.
Di dalam didikannya, keperibadian
Abdullah bin Zubair dibentuk. Beliau adalah susuk seorang ibu yang
sangat memahami peranannya dalam melahirkan generasi utama yang
berkualiti, generasi yang menjadikan kecintaan kepada Allah dan RasulNya
di atas segala-galanya, sama ada harta, isteri, keluarga mahupun segala
jenis perbendaharaan dunia. Beliau mencetak keperibadian generasi yang
siap berjuang membela bendera Islam dan kalimah La ilaha illallah
Muhammad Rasulullah. Keperibadian seperti ini terpancar jelas di dalam
diri puteranya, Abdullah bin Zubair. Hal ini dapat kita teladani melalui
kisah pertemuan terakhir di antara seorang ibu dan anak yang saling
menyayangi dan mencintai satu sama lain, semata-mata kerana kecintaan
keduanya kepada Allah Subhanahu wa Taala dan RasulNya.
Abdullah:
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, wahai ibunda!
Asma': Wa'alaikum
salam warahmatullahi wabarakatuh, ya Abdullah! Mengapa engkau datang ke
sini di saat-saat seperti ini? Padahal batu-batu besar yang dilontarkan
Hajjaj kepada tenteramu menggetarkan seluruh Kota Mekah?
Abdullah: Aku hendak
bermusyawarah dengan ibu
Asma': Tentang masalah apa?
Abdullah: Tenteraku
banyak meninggalkanku. Mereka membelot dariku ke pihak musuh. Mungkin
kerana mereka takut terhadap Hajjaj atau mungkin juga kerana mereka
menginginkan sesuatu yang dijanjikannya sehingga anak-anak dan isteriku
sendiri berpaling daripadaku. Sedikit sekali jumlah tentera yang tinggal
bersamaku. Sementara utusan Bani Umayyah menawarkan kepadaku apa saja
yang ku minta berupa kemewahan dunia asal saja aku bersedia meletakkan
senjata dan bersumpah setia mengangkat Abdul Malik bin Marwan sebagai
khalifah. Bagaimana pendapatmu wahai ibu?
Asma': Terserah kepadamu Abdullah!
Bukankah engkau sendiri yang mengetahui tentang dirimu? Jika engkau
yakin bahawa engkau mempertahankan yang haq dan mengajak kepada
kebenaran, maka teguhkanlah pendirianmu sepertimana para perajuritmu
yang telah gugur dalam mengibarkan bendera agama ini! Akan tetapi, jika
engkau menginginkan kemewahan dunia, sudah tentu engkau adalah seorang
anak lelakiku yang pengecut! dan bererti engkau sedang mencelakakan
dirimu sendiri dan menjual murah harga kepahlawananmu selama ini,
anakku!
Abdullah:
Akan tetapi, aku akan terbunuh hari ini ibu.
Asma' : Itu lebih baik
bagimu daripada kepalamu akan dipijak-pijak juga oleh budak-budak Bani
Umayyah dengan mempermainkan janji-janji mereka yang
sangat sukar untuk dipercayai!
Abdullah: Aku tidak takut mati, Ibu. Tetapi aku
khuatir mereka akan mencincang dan merobek-robek jenazahku dengan kejam!
Asma': Tidak
ada yang perlu ditakuti perbuatan orang hidup terhadap kita sesudah kita
mati. Kambing yang sudah disembelih tidak akan merasa sakit lagi ketika
kulitnya dikupas orang!
Abdullah: Semoga Ibu diberkati Allah. Maksud
kedatanganku hanya untuk mendengar apa yang telah ku dengar dari ibu
sebentar tadi. Allah Maha Mengetahui, aku bukanlah orang yang lemah dan
terlalu hina. Dia Maha Mengetahui bahawa aku tidak akan terpengaruh oleh
dunia dan segala kemewahannya. Murka Allah bagi sesiapa yang meremehkan
segala yang diharamkanNya. Inilah aku, anak Ibu! Aku selalu patuh
menjalani segala nasihat Ibu. Apabila tewas, janganlah ibu menangisiku.
Segala urusan dari kehidupan Ibu, serahkanlah kepada Allah!
Asma': Yang ibu
khuatirkan andainya engkau tewas di jalan yang sesat.
Abdullah: Percayalah
Ibu! Anakmu ini tidak pernah memiliki fikiran sesat untuk berbuat keji.
Anakmu ini tidak akan menyelamatkan dirinya sendiri dan tidak
memperdulikan orang-orang Muslim yang berbuat kebaikan. Anakmu ini
mengutamakan keredhaan ibunya. Aku mengatakan semua ini di hadapan ibu
dari hatiku yang putih bersih. Semoga Allah menanamkan kesabaran di
dalam sanubari Ibu.
Asma': Alhamdulillah! segala puji bagi Allah yang
telah meneguhkan hatimu dengan apa yang disukaiNya dan yang Ibu sukai
pula. Rapatlah kepada Ibu wahai anakku, Ibu ingin mencium baumu dan
menyentuhmu. Agaknya inilah saat terakhir untuk ibu memelukmu..."
Abdullah:Jangan
bosan mendoakan aku Ibu!
Sebelum matahari terbenam di petang itu, Abdullah
bin Zubair syahid menemui Rabbnya. Dia kembali kerana mengutamakan redha
Allah dan redha ibunya yang beriman. Diriwayatkan, bahawa Al-Hajjaj
berkata kepada Asma' setelah Abdullah terbunuh :"Bagaimanakah engkau
lihat perbuatanku terhadap puteramu ?" Asma' menjawab :"Engkau telah
merosak dunianya, namun dia telah merosak akhiratmu." Asma' wafat di
Mekkah dalam usia 100 tahun, sedang giginya tetap utuh, tidak ada yang
tanggal dan akalnya masih sempurna. [Mashaadirut Tarjamah : Thabaqaat
Ibnu Saad, Taarikh Thabari, Al-Ishaabah dan Siirah Ibnu Hisyam]. Semoga
Allah meredhai kedua hambaNya, Asma' dan puteranya.
Khatimah
Inilah sebuah
teladan yang sangat berharga buat kita semua. Asma' Radiallahu anha
bukan sahaja menunjukkan keberaniannya, kepatuhannya kepada Allah, suami
dan ayahnya, juga pengorbanannya yang besar, sikap dermawannya dan
kecemerlangan berfikir yang menjadi cermin keperibadiannya. Bersama
suaminya, Zubair bin Awwam, terbentuklah keluarga sakinah, mawaddah wa
rahmah, bukan kerana harta yang melimpah ruah, tetapi limpahan
barakah dan rahmat dari Allah Subhanahu wa Taala kerana ahli
keluarganya yang menjadikan kecintaan mereka hanya kepada Allah dan
Rasul di atas kecintaan-kecintaan lainnya. Dari keluarga ini, lahirlah
seorang syuhada yang gagah berani, tidak takut terhadap apapun kecuali
Allah Subhanahu wa Taala Semoga kisah Asma’ Abu Bakar ini
akan sentiasa mekar di jiwa kita sebagai motivasi diri dalam menyemai
kecintaan serta menjalankan kewajipan terhadap Rabbul Izzati.
http://www.islam2u.net/index.php?option=com_content&view=article&id=189:ibu-teladan-asma-binti-abu-bakar-as-siddiq-dzatun-nithaqain&catid=14:kisah-kisah-sahabat&Itemid=75
Salman al-Farisy pencari kebenaran
Sesungguhnya sesiapa yang mencari kebenaran, pasti akan menemuinya.
Kisah ini adalah kisah benar pengalaman seorang manusia mencari agama
yang benar (hak), iaitu pengalaman Salman Al Farisy
Marilah kita semak Salman
menceritakan pengalamannya selama mengembara mencari agama yang hak
itu. Dengan ingatannya yang kuat, ceritanya lebih lengkap, terperinci
dan lebih terpercaya. seorang sahabat Rasulullah saw.
Dari Abdullah bin Abbas
Radhiyallahu 'Anhuma berkata, "Salman al-Farisi Radhiyallahu 'Anhu
menceritakan biografinya kepadaku dari mulutnya sendiri. Kata Salman,
"Saya pemuda Parsi, penduduk kota Isfahan, berasal dari desa Jayyan.
Bapaku pemimpin Desa. Orang terkaya dan berkedudukan tinggi di situ. Aku
adalah insan yang paling disayangi ayah sejak dilahirkan. Kasih sayang
beliau semakin bertambah seiring dengan peningkatan usiaku, sehingga
kerana teramat sayang, aku dijaga di rumah seperti anak gadis.
Aku mengabdikan diri
dalam Agama Majusi (yang dianut ayah dan bangsaku). Aku
ditugaskan untuk menjaga api penyembahan kami supaya api tersebut
sentiasa menyala.
Ayahku
memiliki kebun yang luas, dengan hasil yang banyak Kerana itu beliau
menetap di sana untuk mengawasi dan memungut hasilnya. Pada suatu hari
bapa pulang ke desa untuk menyelesaikan suatu urusan penting. Beliau
berkata kepadaku, "Hai anakku! Bapa sekarang sangat sibuk. Kerana itu
pergilah engkau mengurus kebun kita hari ini menggantikan Bapa.''
Aku pergi ke kebun kami.
Dalam perjalanan ke sana aku melalui sebuah gereja Nasrani. Aku
mendengar suara mereka sedang sembahyang. Suara itu sangat menarik
perhatianku.
Sebenarnya
aku belum mengerti apa-apa tentang agama Nasrani dan agama-agama lain.
Kerana selama ini aku dikurung bapa di rumah, tidak boleh bergaul dengan
siapapun. Maka ketika aku mendengar suara mereka, aku tertarik untuk
masuk ke gereja itu dan mengetahui apa yang sedang mereka
lakukan. Aku kagum dengan cara mereka bersembahyang dan ingin
menyertainya.
Kataku,
"Demi Allah! ini lebih bagus daripada agama kami."Aku tidak berganjak
dari gereja itu sehinggalah petang. Sehingga aku terlupa untuk ke kebun.
Aku bertanya kepada
mereka, "Dari mana asal agama ini?"
"Dari Syam (Syria)," jawab mereka.
Setelah hari senja,
barulah aku pulang. Bapa bertanyakan urusan kebun yang ditugaskan beliau
kepadaku.
Jawabku,
"Wahai, Bapa! Aku bertemu dengan orang sedang sembahyang di gereja. Aku
kagum melihat mereka sembahyang. Belum pernah aku melihat cara orang
sembahyang seperti itu. Kerana itu aku berada di gereja mereka sampai
petang."
Bapa
menasihati akan perbuatanku itu. Katanya, "Hai, anakku! Agama Nasrani
itu bukan agama yang baik. Agamamu dan agama nenek moyangmu (Majusi)
lebih baik dari agama Nasrani itu!"
Jawabku, "Tidak! Demi Allah! Sesungguhnya agama
merekalah yang lebih baik dari agama kita."
Bapa khuatir dengan ucapanku itu. Dia takut
kalau aku murtad dari agama Majusi yang kami anuti. Kerana itu dia
mengurungku dan membelenggu kakiku dengan rantai.
Ketika aku beroleh
kesempatan, kukirim surat kepada orang-orang Nasrani minta tolong kepada
mereka untuk memaklumkan kepadaku andai ada kafilah yang akan
ke Syam supaya memberitahu kepadaku. Tidak berapa lama kemudian, datang
kepada mereka satu kafilah yang hendak pergi ke Syam. Mereka
memberitahu kepadaku.
Maka aku berusaha untuk membebaskan diri daripada
rantai yang membelengu diriku dan melarikan diri bersama kafilah
tersebut ke Syam.
Sampai
di sana aku bertanya kepada mereka, "Siapa kepala agama Nasrani di
sini?"
"Uskup
yang menjaga "jawab mereka.
Aku pergi menemui Uskup seraya berkata kepadanya, "Aku
tertarik masuk agama Nasrani. Aku bersedia menadi pelayan anda sambil
belajar agama dan sembahyang bersama-sama anda."
'Masuklah!" kata Uskup.
Aku masuk, dan
membaktikan diri kepadanya sebagai pelayan.
Setelah beberapa lama aku berbakti
kepadanya, tahulah aku Uskup itu orang jahat. Dia menganjurkan
jama'ahnya bersedekah dan mendorong umatnya beramal pahala. Bila sedekah
mereka telah terkumpul, disimpannya saja dalam perbendaharaannya dan
tidak dibahagi-bahagikannya kepada fakir miskin sehingga kekayaannya
telah berkumpul sebanyak tujuh peti emas.
Aku sangat membencinya kerana perbuatannya
yang mengambil kesempatan untuk mengumpul harta dengan duit sedekah
kaumnya. tidak lama kemudian dia meninggal. Orang-orang Nasrani
berkumpul hendak menguburkannya.
Aku berkata kepada mereka, 'Pendeta kalian ini orang
jahat. Dianjurkannya kalian bersedekah dan digembirakannya kalian dengan
pahala yang akan kalian peroleh. Tapi bila kalian berikan sedekah
kepadanya disimpannya saja untuk dirinya, tidak satupun yang
diberikannya kepada fakir miskin."
Tanya mereka, "Bagaimana kamu tahu demikian?"
Jawabku, "Akan
kutunjukkan kepada kalian simpanannya."
Kata mereka, "Ya, tunjukkanlah kepada kami!"
Maka kuperlihatkan
kepada mereka simpanannya yang terdiri dan tujuh peti, penuh berisi emas
dan perak. Setelah mereka saksikan semuanya, mereka berkata, "Demi
Allah! Jangan dikuburkan dia!"
Lalu mereka salib jenazah uskup itu, kemudian mereka
lempari dengan batu. Sesudah itu mereka angkat pendeta lain sebagai
penggantinya. Akupun mengabdikan diri kepadanya. Belum pernah kulihat
orang yang lebih zuhud daripadanya. Dia sangat membenci dunia tetapi
sangat cinta kepada akhirat. Dia rajin beribadat siang malam. Kerana itu
aku sangat menyukainya, dan lama tinggal bersamanya.
Ketika ajalnya sudah
dekat, aku bertanya kepadanya, "Wahai guru! Kepada siapa guru
mempercayakanku seandainya guru meninggal. Dan dengan siapa aku harus
berguru sepeninggalan guru?"
Jawabnya, "Hai, anakku! Tidak seorang pun yang aku
tahu, melainkan seorang pendeta di Mosul, yang belum merubah dan
menukar-nukar ajaran-ajaran agama yang murni. Hubungi dia di sana!"
Maka tatkala guruku
itu sudah meninggal, aku pergi mencari pendeta yang tinggal di Mosul.
Kepadanya kuceritakan pengalamanku dan pesan guruku yang sudah meninggal
itu.
Kata
pendeta Mosul, "Tinggallah bersama saya."
Aku tinggal bersamanya. Ternyata dia pendeta
yang baik. Ketika dia hampir meninggal, aku berkata kepada nya,
"Sebagaimana guru ketahui, mungkin ajal guru sudah dekat. Kepada siapa
guru mempercayai seandainya guru sudah tiada?"
Jawabnya, "Hai, anakku!
Demi Allah! Aku tak tahu orang yang seperti kami, kecuali seorang
pendeta di Nasibin. Hubungilah dia!"
Ketika pendeta Mosul itu sudah meninggal,
aku pergi menemui pendeta di Nasibin. Kepadanya kuceritakan pengalamanku
serta pesan pendeta Mosul.
Kata pendeta Nasibin, "Tinggallah bersama kami!"
Setelah aku tinggal di
sana, ternyata pendeta Nasibin itu memang baik. Aku mengabdi dan belajar
dengannya sehinggalah beliau wafat. Setelah ajalnya sudah dekat, aku
berkata kepadanya, "Guru sudah tahu perihalku maka kepada siapa harusku
berguru seandainya guru meninggal?"
Jawabnya, "Hai, anakku! Aku tidak tahu lagi pendeta
yang masih memegang teguh agamanya, kecuali seorang pendeta yang tinggal
di Amuria. Hubungilah dia!"
Aku pergi menghubungi pendeta di Amuria itu. Maka
kuceritakan kepadanya pengalamanku.
Katanya, "Tinggallah bersama kami!
Dengan petunjuknya, aku
tinggal di sana sambil mengembala kambing dan sapi. Setelah guruku sudah
dekat pula ajalnya, aku berkata kepadanya, "Guru sudah tahu urusanku.
Maka kepada siapakah lagi aku akan anda percayai seandainya guru
meninggal dan apakah yang harus kuperbuat?"
Katanya, "Hai, anakku! Setahuku tidak ada
lagi di muka bumi ini orang yang berpegang teguh dengan agama yang murni
seperti kami. Tetapi sudah hampir tiba masanya, di tanah Arab akan
muncul seorang Nabi yang diutus Allah membawa agama Nabi Ibrahim.
Kemudian dia akan
berpindah ke negeri yang banyak pohon kurma di sana, terletak antara dua
bukit berbatu hitam. Nabi itu mempunyai ciri-ciri yang jelas. Dia mahu
menerima dan memakan hadiah, tetapi tidak mahu menerima dan memakan
sedekah. Di antara kedua bahunya terdapat tanda kenabian. Jika engkau
sanggup pergilah ke negeri itu dan temuilah dia!"
Setelah pendeta Amuria
itu wafat, aku masih tinggal di Amuria, sehingga pada suatu waktu
segerombolan saudagar Arab dan kabilah "Kalb" lewat di sana. Aku berkata
kepada mereka, "Jika kalian mahu membawaku ke negeri Arab, aku berikan
kepada kalian semua sapi dan kambing-kambingku."
Jawab mereka, "Baiklah!
Kami bawa engkau ke sana."
Maka kuberikan kepada mereka sapi dan kambing
peliharaanku semuanya. Aku dibawanya bersama-sama mereka. Sesampainya
kami di Wadil Qura aku ditipu oleh mereka. Aku dijual kepada seorang
Yahudi. Maka dengan terpaksa aku pergi dengan Yahudi itu dan berkhidmat
kepadanya sebagai hamba. Pada suatu hari anak saudara majikanku datang
mengunjunginya, iaitu Yahudi Bani Quraizhah, lalu aku dibelinya daripada
majikanku.
Aku
berpindah ke Yastrib dengan majikanku yang baru ini. Di
sana aku melihat banyak pohon kurma seperti yang diceritakan guruku,
Pendeta Amuria. Aku yakin itulah kota yang dimaksud guruku itu. Aku
tinggal di kota itu bersama majikanku yang baru.
Ketika itu Nabi yang baru
diutus sudah muncul. Tetapi baginda masih berada di Makkah menyeru
kaumnya. Namun begitu aku belum mendengar apa-apa tentang kehadiran
serta da'wah yang baginda sebarkan kerana aku terlalu sibuk dengan
tugasku sebagai hamba.
Tidak berapa lama kemudian, Rasulullah saw. berpindah
ke Yastrib. Demi Allah! Ketika itu aku sedang berada di puncak pohon
kurma melaksanakan tugas yang diperintahkan majikanku. Dan majikanku itu
duduk di bawah pohon. Tiba-tiba datang anak saudaranya mengatakan,
"Biar mampus Bani Qaiah!( kabilah Aus dan Khazraj) Demi Allah! Sekarang
mereka berkumpul di Quba' menyambut kedatangan lelaki dari Makkah yang
mendakwa dirinya Nabi."
Mendengar ucapannya itu badanku terasa panas dingin
seperti demam, sehingga aku menggigil kerananya. Aku kuatir akan jatuh
dan tubuhku akan menimpa majikanku. Aku segera turun dari puncak ponon,
lalu bertanya kepada tamu itu, "Apa kabar anda? Cubalah khabarkan
kembali kepadaku!"
Majikanku marah dan memukulku seraya berkata, "Ini
bukan urusanmu! Kerjakan tugasmu kembali!"
Keesokannya aku mengambil buah kurma
seberapa banyak yang mampu kukumpulkan. Lalu kubawa ke hadapan
Rasulullah saw..
Kataku
"Aku tahu tuan orang soleh. Tuan datang bersama-sama sahabat tuan
sebagai perantau. Inilah sedikit kurma dariku untuk sedekahkan kepada
tuan. Aku lihat tuanlah yang lebih berhak menerimanya daripada yang
lain-lain." Lalu aku hulurkan kurma itu ke hadapannya.
Baginda berkata kepada
para sahabatnya, "silakan kalian makan,...!" Tetapi baginda tidak
menyentuh sedikit pun makanan itu apalagi untuk memakannya.
Aku berkata dalam hati,
"Inilah satu di antara ciri cirinya!"
Kemudian aku pergi meninggalkannya dan
kukumpulkan pula sedikit demi sedikit kurma yang terdaya kukumpulkan.
Ketika Rasulullah saw. pindah dari Quba' ke Madinah, kubawa kurma itu
kepada baginda.
Kataku,
"Aku lihat tuan tidak mahu memakan sedekah. Sekarang kubawakan sedikit
kurma, sebagai hadiah untuk tuan."
Rasulullah saw. memakan buah kurma yang kuhadiahkan
kepadanya. Dan baginda mempersilakan pula para sahabatnya makan
bersama-sama dengannya. Kataku dalam hati, "ini ciri kedua!"
Kemudian kudatangi
baginda di Baqi', ketika baginda menghantar jenazah sahabat baginda
untuk dimakamkan di sana. Aku melihat baginda memakai dua helai kain.
Setelah aku memberi salam kepada baginda, aku berjalan mengekorinya
sambil melihat ke belakang baginda untuk melihat tanda kenabian yang
dikatakan guruku.
Agaknya
baginda mengetahui maksudku. Maka dijatuhkannya kain yang menyelimuti
belakangnya, sehingga aku melihat dengan jelas tanda kenabiannya.
Barulah aku yakin, dia
adalah Nabi yang baru diutus itu. Aku terus memeluk bagindanya, lalu
kuciumi dia sambil menangis.
Tanya Rasulullah, "Bagaimana khabar Anda?"
Maka kuceritakan kepada
beliau seluruh kisah pengalamanku. Beliau kagum dan menganjurkan supaya
aku menceritakan pula pengalamanku itu kepada para sahabat baginda. Lalu
kuceritakan pula kepada mereka. Mereka sangat kagum dan gembira
mendengar kisah pengalamanku.
Berbahagilah Salman Al-Farisy yang telah berjuang
mencari agama yang hak di setiap tempat. Berbahagialah Salman yang telah
menemukan agama yang hak, lalu dia iman dengan agama itu dan memegang
teguh agama yang diimaninya itu. Berbahagialah Salman pada hari
kematiannya, dan pada hari dia dibangkitkan kembali kelak.
Salman sibuk bekerja
sebagai hamba. Dan kerana inilah yang menyebabkan Salman terhalang
mengikuti perang Badar dan Uhud. "Rasulullah saw. suatu hari bersabda
kepadaku, "Mintalah kepada majikanmu untuk bebas, wahai Salman!" Maka
majikanku membebaskan aku dengan tebusan 300 pohon kurma yang harus aku
tanam untuknya dan 40 uqiyah.
Kemudian Rasulullah saw. mengumpulkan para sahabat dan
bersabda, "Berilah bantuan kepada saudara kalian ini." Mereka pun
membantuku dengan memberi pohon (tunas) kurma. Seorang sahabat ada yang
memberiku 30 pohon, atau 20 pohon, ada yang 15 pohon, dan ada yang 10
pohon, setiap orang sahabat memberiku pohon kurma sesuai dengan kadar
kemampuan mereka, sehingga terkumpul benar-benar 300 pohon.
Setelah terkumpul
Rasulullah saw. bersabda kepadaku, "Berangkatlah wahai Salman dan
tanamlah pohon kurma itu untuk majikanmu, jika telah selesai datanglah
kemari aku akan meletakkannya di tanganku."
Aku pun menanamnya dengan dibantu para
sahabat. Setelah selesai aku menghadap Rasulullah saw. dan
memberitahukan perihalku, Kemudian Rasulullah saw. keluar bersamaku
menuju kebun yang aku tanami itu. Kami dekatkan pohon (tunas) kurma itu
kepada baginda dan Rasulullah saw. pun meletakkannya di
tangan baginda. Maka, demi jiwa Salman yang berada di tanganNya, tidak
ada sebatang pohon pun yang mati.
Untuk tebusan pohon kurma sudah dipenuhi, aku masih
mempunyai tanggungan wang sebesar 40 uqiyah. Kemudian Rasulullah saw.
membawa emas sebesar telur ayam hasil dari rampasan perang. Lantas
baginda bersabda, "Apa yang telah dilakukan Salman
al-Farisi?"
Kemudian
aku dipanggil baginda, lalu baginda bersabda, "Ambillah
emas ini, gunakan untuk melengkapi tebusanmu wahai Salman!"
"Wahai Rasulullah saw.,
bagaimana status emas ini bagiku? Soalku inginkan kepastian daripada
baginda.
Rasulullah
menjawab, "Ambil saja! Insya Allah, Allah Subhanahu wa Ta'ala akan
memberi kebaikan kepadanya." Kemudian aku menimbang emas itu. Demi jiwa
Salman yang berada di tanganNya, berat ukuran emas itu 40 uqiyah.
Kemudian aku penuhi tebusan yang harus aku serahkan kepada majikanku,
dan aku dimerdekakan.
Setelah itu aku turut serta bersama Rasulullah saw.
dalam perang Khandaq, dan sejak itu tidak ada satu peperangan yang tidak
aku ikuti.'
(HR.
Ahmad, 5/441; ath-Thabrani dalam al-Kabir(6/222); lbnu Sa'ad
dalamath-Thabagat, 4/75; al-Balhaqi dalam al-kubra, 10/323.)
http://www.islam2u.net/index.php?option=com_content&view=article&id=314:salman-al-farisy-pencari-kebenara
Salman Al-Farisi Pemimpin Yang Rendah Diri
Salman Al-Farisi Pemimpin Yang Rendah Diri
http://www.islam2u.net/index.php?option=com_content&view=article&id=350:salman-al-farisi-pemimpin-yang-rendah-diri&catid=14:kisah-kisah-sahabat&Itemid=75
Salman Al-Farisi tergolong sebagai salah
seorang sahabat Rasulullah saw. Beliau berasal dari negeri Parsi.
Pernah di masa hidupnya, Salman telah diberi jawatan sebagai Gabenor di
salah sebuah jajahan takluk Islam. Namun demikian kedudukannya itu
tidak sedikit pun mengubah keperibadiannya yang penyantun, rendah diri,
serta zuhud terhadap kemewahan dunia. Pada suatu hari, diriwayatkan
seorang rakyat awam tanpa mengenali Salman terus menariknya secara
kasar lalu menyuruhnya melakukan suatu kerja yang berat. Orang itu
menjumpai Salman ketika berada di tepi jalan. Ia mempunyai sebuah
karung besar lalu menyuruh Salman memikulnya sampai ke rumah.
Tanpa banyak soal Salman
terus memikulnya. Di pertengahan jalan, seorang lelaki telah memberi
salam kepadanya. Alangkah terkejutnya melihat Salman memikul karung.
Lalu berkata: "Wahai tuan! Tahukah tuan bahawa orang yang memikul
karung tuan itu adalah Salman Al-Farisi, Amir negeri kita ini."
Terkejut lelaki itu mendengarnya, apabila dikenangkan orang yang
dikasarinya itu adalah gabenornya sendiri. Lantas dia meminta maaf lalu
menyuruh Salman menurunkan karung yang sedang dipikulnya itu. Tetapi
Salman menjawab: "Oh tidak mengapa tuan. Biarlah saya memikul barang
tuan ini hingga sampai ke rumah tuan". Demikianlah ketinggian
budi pekerti Salman Al-Farisi, salah seorang sahabat Rasulullh saw.
yang tidak mementingkan darjat kedudukan.
Langganan:
Postingan (Atom)



